Bab 1 — Mentari Pagi di Kampung Durian Runtuh
Suara ayam berkokok memecah kesunyian pagi. Cahaya mentari perlahan menembus celah pepohonan rambutan di halaman rumah kecil berwarna hijau muda itu. Di dapur, aroma kopi dan nasi lemak tercium semerbak — tanda bahwa hari di Kampung Durian Runtuh telah dimulai.
“Upin! Ipin! Cepat bangun, nanti sejuk matahari naik tinggi!”
Suara lantang itu, meskipun sudah puluhan tahun tak berubah, masih membuat siapa pun di rumah itu refleks bangun.
Ya, itu suara Kak Ros — kini berusia 30 tahun, tapi tetap dengan gaya khasnya yang tegas dan berwibawa.
Tak lama, dari kamar kecil di pojok, muncul dua sosok pria muda.
Mereka bukan lagi bocah berkepala botak yang dulu suka bermain kejar-kejaran, tapi dua pemuda yang sudah tumbuh gagah dan dewasa: Upin dan Ipin.
“Alamak, Kak Ros ni... pagi-pagi dah marah,” keluh Ipin sambil mengucek mata.
“Betul tu! Baru nak mimpi makan ayam goreng,” sambung Upin dengan tawa kecil.
Kak Ros memutar mata, tapi tak bisa menahan senyum.
“Kalau ayam goreng tu kamu nak, pergilah bantu Kak Ros di dapur! Jangan mimpi saja.”
Mereka pun tertawa. Suasana pagi itu begitu hangat, sederhana, tapi sarat kenangan. Opah kini sudah tua, namun masih duduk di kursi rotan di beranda, menatap langit dengan pandangan damai.
“Pagi, Opah!” seru keduanya serentak, seperti kebiasaan lama yang belum hilang.
Opah tersenyum. “Pagi, cucu Opah. Dah besar kamu berdua… tapi perangai masih sama, ya?”
Mereka bertiga tertawa kecil. Namun di balik tawa itu, tersimpan rasa haru — waktu berjalan begitu cepat.
Kenangan dan Harapan
Upin menatap sawah di kejauhan. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah dan bunga melati dari halaman.
“Dulu, kita selalu main bola dekat sana, kan, Pin?” katanya pelan.
Ipin mengangguk, matanya menerawang jauh. “Ya… masa tu, semua masih kecil. Mail selalu jual ayam goreng dua ringgit, Jarjit sibuk dengan pantun, Mei Mei dengan ‘Hello kawan-kawan!’ dia tu…”
Mereka tertawa kecil, mengingat masa lalu yang manis.
Namun kini, semuanya sudah berbeda. Mail membuka kedai besar di kota, Jarjit sering muncul di televisyen sebagai pelawak terkenal, dan Mei Mei kini menjadi guru di sekolah internasional.
Kadang-kadang mereka masih pulang saat lebaran, tapi tetap saja, kampung terasa lebih sunyi tanpa suara riuh anak-anak bermain.
Upin menarik napas panjang. “Aku rasa, kita patut buat sesuatu untuk kampung ni, Pin. Supaya tak hilang macam tu saja.”
Ipin menoleh, matanya penuh tekad. “Aku pun fikir macam tu. Kita boleh mulakan dengan sekolah kecil untuk anak-anak kampung.”
Dan di situlah, ide besar itu mulai lahir — gagasan sederhana dari dua anak kembar yang dulu hanya dikenal karena tawa mereka, kini ingin memberi makna baru bagi kampung tempat mereka tumbuh.
Pagi yang Sibuk di Dapur
Di dapur, Kak Ros sedang sibuk mengemas pesanan. Sekotak demi sekotak kue tradisional ditata rapi di meja kayu panjang. Di dinding tergantung papan bertuliskan “Ros Delights – Cita Rasa Kampung, Rasa Dunia.”
“Wah, banyak betul pesanan hari ni, Kak!” seru Upin membantu mengangkat kotak.
“Yalah, rezeki jangan ditolak. Lagipun, esok ada festival makanan di Pekan Durian Runtuh. Kamu berdua ikut ya, tolong Kak Ros di sana.”
Ipin mengangguk sambil tersenyum. “Boleh! Nanti kita sekalian buka booth kecil, tunjukkan projek sekolah kampung tu.”
Kak Ros menatap mereka dengan bangga. “Kamu ni betul-betul dah besar. Dulu asyik gaduh pasal ais krim, sekarang dah nak urus sekolah.”
Upin menggaruk kepala. “Dulu kan budak-budak, Kak… sekarang budak besar.”
Semua tertawa.
Namun di balik tawa itu, tersimpan semangat baru. Hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang dua saudara kembar yang akan mengubah wajah Kampung Durian Runtuh untuk selamanya.
Sore yang Tenang dan Langit Jingga
Menjelang sore, Upin dan Ipin duduk di beranda bersama Opah. Langit mulai berubah warna menjadi oranye keemasan. Suara azan Magrib dari surau kecil di ujung kampung menggema lembut.
“Opah, kami nak buat sekolah kecil dekat kampung ni. Untuk ajar anak-anak belajar, main, dan jaga alam sekitar,” ujar Ipin.
Opah mengangguk perlahan. “Bagus tu, cucu Opah. Dunia ni makin maju, tapi kalau hati tak dijaga, manusia boleh hilang arah.”
Upin menatap Opah dengan kagum.
“Opah, dulu masa kecil, Opah selalu pesan jangan sombong, jangan lupa asal… Sekarang kami nak tunjuk, pesan Opah tu masih kami ingat.”
Air mata menetes di pipi tua itu. “Alhamdulillah… Opah bangga sangat dengan kamu berdua.”
Langit sore semakin redup, tapi di hati mereka, cahaya itu semakin terang.
Penutup Bab 1
Malam pun tiba. Di luar, suara jangkrik bersahutan. Di dalam rumah, Upin dan Ipin menatap papan tulis kecil di ruang tengah, di mana mereka mulai menulis rencana:
“Sekolah Kampung Durian Runtuh – Belajar, Bermain, dan Berbagi.”
Mereka tersenyum satu sama lain.
Upin berkata pelan, “Pin, kau rasa kita boleh buat ni?”
Ipin menjawab, “Kalau kita buat sama-sama, semua boleh.”
Dan begitulah, dua anak kembar yang dulu hanya dikenali kerana gelak tawa dan keusilan, kini memulai bab baru dalam hidup mereka — bab tentang pengabdian, mimpi, dan cinta kepada kampung halaman.
🌿 Pesan Bab 1:
Kadang, masa depan tidak dimulai dengan langkah besar, tetapi dari niat kecil yang lahir dari hati yang tulus.
Komentar
Posting Komentar